Selasa, 03 Mei 2011

TAK KENAL MAKA TAK PILIH

TAK KENAL MAKA TAK PILIH
oleh: Jimi Saputro
Sebagai Syarat Pencalonan Anggota Badan Legislatif Mahasiswa STAN
Perwakilan Spesialisasi Kebendaharaan Negara
Pemilihan Raya STAN 2011

Salam terhangat bagi seluruh umat muslim. Assalmu’alaikum wr. wb.
Mungkin sering kita mendengar pepatah tak Kenal Maka Tak Sayang, atau istilah Tak Kenal Maka Ta’aruf. Dalam hal pemilihan umum atau di kampus STAN lebih di kenal pemilihan raya (PEMIRA) maka akan muncul istilah baru yakni Tak Kenal Maka Tak Pilih. Apa maksud dari istilah tersebut, mungkin setiap orang akan berbeda-beda penafsiranya. Dalam hal ini saya artikan bahwa pemilihan raya yang dilakukan di kampus STAN tanpa adanya pemahaman siapa calon yang akan dipilih, asalkan dia kenal maka akan dipilihnya.

Sangat ironis memang, dimana sekolah tinggi kedinasan tidak bisa dipungkiri lagi minatnya terhadap organisasi sangat-sangat kecil. Mahasiswa STAN terkesan cuek atau tak pedulikan organisasi yang ada di lingkungan STAN. Hal ini dapat terlihat dari antusias pendaftaran Bakal Calon Presiden Mahasiswa (Presma) dan Wakil Presiden Mahasiswa (Wapresma), Bakal Calon Ketua Himpunan Mahasiswa Spesialisasi (HMS) dan Wakil HMS, serta Badan Calon Anggota Badan Legislatif Mahasiswa (BLM). Hal ini juga terlihat ketika semua Bakal Calon menjadi Calon, seakan tidak ada verifikasi karena memang hanya sejumlah itu yang mendaftar, maka sejumlah itu pula yang lolos.
Yang lebih ironisnya lagi jumlah pendaftar Anggota Legislatif Mahasiswa yang kuotanya sebanyak 30 anggota pendaftarnya hanya sekitar 24 mahasiswa dan itupun masih harus dikurangi tiga mahasiswa yang harus bersaing di speisalisasi kebendaharaan negara. Pada hakekatnya seorang anggota BLM mewakili 200 mahasiswa, dengan kosongnya sembilan anggota BLM berarti ada sekitar 1800 suara mahasiswa yang tidak terwakili. Sebendarnya alasan apa yang membuat BLM jarang peminatnya. Ataukah mungkin karena kerja BLM tidak terlihat dan tidak eksis karena bekerja di belakang layar yang membuat organisasi ini jarang peminatnya. Jawaban dikembalikan kepada individu masing-masing.
Di pemira 2011 ada hal yang menggelitik, yang mungkin hampir di setiap tahun di pemira STAN terjadi. Ada bakal calon yang masih tetap di loloskan meski dukungan dari kelas kurang. Padahal sudah jelas ditetapkan bahwa di peraturan bakal calon harus melampaui dukungan minimal dari kelas. Mungkin hal ini bertujuan untuk menghindari adanya calon tunggal. Selain itu masih adanya pencalonan tunggal, yang otomatis langsung jadi tanpa harus ada pemilihan. Serta kurangnya kuota dari anggota BLM.
Kembali ke masalah pemilihan, kebanyakan mahasiswa STAN akan memilih siapa yang telah ia kenalnya meskipun kenal hanya sepintas kenal muka dan nama, dengan kata lain belum mengenal secara mendalam siapa calon yang ia akan piliih. Seorang pemilih seharusnya mengetahui apa visi dan misi yang diusung oleh masing-masing calon. Serta rencana kerja yang dijanjikan setelah terpilih nantinya.
Oleh karena itu jangan memilih karena teman kelas, teman spes, teman kosan atau karena kegantengan atau kecantikannya. Pilihlah setelah mempertimbangkan visi misi dan raker calon.
Setelah memilih jangan lupa untuk mengawasi calon terpilih atas segala kinerjanya. Apakah sudah sesuai dengan visi yang ia emban. Dan misi-misinya apakah telah dijalankan atau belum. Serta rencana kerja yang dijanjikan sudah terlaksana atau belum. Jika sudah maka dukunglah kelancaran kinerjanya. Akan tetapi, jika belum maka jangan semata-mata menyalahkan akan tetapi bantu untuk atasi masalah yang menghadang. Karena bagaimanapun juga kita telah memilihnya, dan harus ikut bertanggung jawab atas apa yang telah kita pilih.
Hal ini mungkin yang marak di masyarakat kita dan telah masuk ke kampus STAN. Yakni saling beradu popularitas masing-masing calon. Seperti halnya pemilihan umum saat pemilihan presiden semuanya saling berlomba tuk paling terkenal dan paling pupuler di masyarakat. Sama halnya di kampus STAN saling berlomba tuk bikin baner atau baliho sebesar-besarnya. Tapi apakah disadari, dari mana uang untuk bikin baliho tersebut. Uang Mahasiswa!!! Terus apa manfaatnya bagi mahasiswa, uang mereka habis tanpa mereka rasakan manfaatnya. Dan setelah itu apakah mahasiswa tahu visi misi dan raker para calon. Bisa di jawab sendiri-sendiri.
Kelemahan dari sistem saling adu populer adalah ketika calon terpilih tidak menjalankan visi misi dan raker maka si pemilih akan lebih cenderung menyalahkan calon terpilih. Apakah tidak lucu ketika kita telah memilih akan tetapi kita juga yang menjelek-jelekkan calon terpilih. Itu sama halnya menunjuk pada cermin, yakni menyalahkan diri kita sendiri. Karena calon terpilih merupakan pilihan kita, maka sudah menjadi kewajiban kita untuk mensuport dan membantu ketika calon pilihan kita melenceng dari yang kita harapkan.
Ketika pilihan yang kita pilih tidak jadi pemenang maka apa yang harus kita lakukan. Memang perlu kebesaran hati untuk menerima kekalahan. Hal ini pula yang harus kita lakukan ketika calon yang telah kita pilih ternyata kalah. Kita harus mengikuti suara terbanyak yang sesuai dengan asas musyawarah secara voting. Yakni suara minoritas harus mengikuti segala sesuatu yang telah diatur oleh suara mayoritas dengan penuh tanggung jawab.
Selain hal tersebut, hal yang bisa kita lakukan adalah kita berlaku sebagai kelompok oposisi. Dalam hal ini oposisi berarti membuat organisasi saingan tuk melawan organisasi pemenang pemiliahan. Akan tetapi, oposisi di sini bertujuan untuk mengawasi serta memberi suport atas segala kebijakan serta kinerja organiasi pemenang pemilihan. Jangan sampai seperti Negara kita yang semua partai politik berkoalisi sehingga terjadi sebuah rezim. Karena oposisi sangat dibutuhkan untuk menyeimbangkan keberlangsungan sebuah organisasi.
Sudah diprediksi suara terbanyak di pemilihan raya STAN pasti akan jatuh pada golongan putih, sebab telah kita sadari minat mahasiswa STAN terhadap pemira sangatlah kecil. Oleh karena itu, kita harus patahkan prediksi tersebut, tahun ini pemira STAN harus zero golput. Sebab arti seorang golput adalah bahwa mahasiswa tersebut dalam keadaan bingung memilih atau bahkan tidak tahu siapa yang akan dipilih. Untuk antisipasi hal tersebut maka sudah seharusnya informasi tentang semua calon tersebar luas.
Sekolah Tinggi Kedinasan buat apa berorganisasi, nantinya juga langsung kerja. Itulah pikiran orang-orang apatis. Apakah tak terpikirkan ketika bekerja kita akan berorganisasi serta ketika kita bermasyarakat di lingkungan sosial juga berorganisasi. Hal-hal seperti ini yang sebenarnya sangat-sangat penting akan tetapi banyak di sepelekan oleh mahasiswa PTK.
Mereka juga sering beranggapan bahwa organisasi tempat buat orang jadi populer dan terkenal seantero kampus. Mungkin tidak terpikir oleh mereka bahwa sebenarnya inti dari berorganisasi adalah ketulusan hati untuk mengabdi tanpa harus berharap imbalan. Dan itu pula yang harus kita terapkan ketika kita telah masuk ke kementrian keuangan. Siap tuk mengabdi pada bumi pertiwi.
Oleh karena itu saya menghimbau kepada setiap mahasiswa STAN. Cobalah berpikir secara luas, bahwa berorganisasi itu penting. Bukan hanya untuk kejar popularitas semata. Melainkan untuk belajar mengabdi setulus hati tanpa embel-embel imbalan. Sebab uang tak di bawa mati, amal ibadah yang ikhlaslah yang kekal abadi.
Negara Dana Rakca
Penjaga Keuangan Negara
Karena Pengabdian adalah Muara Juang Kami
Wassalamu’alikum wr. wb.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

Share it

Recent Posts

Ada kesalahan di dalam gadget ini

Entri Populer

Total Tayangan Laman